Minggu, 04 Januari 2009

Anak Itik Yang Buruk Rupa

ANAK ITIK YANG BURUK RUPA

Pada suatu hari di musim panas di dekat sebuah kolam di pinggir desa,, terdengarlah suara anak-anak itik yang meleter dengan penuh semangat.

Kwek,, kwek,, kwek…

“Satu,, dua,, tiga… wah,, anak-anakku yang manis,, semuanya sehat dan lucu,,” kata Ibu Itik dengan senangnya.

Sementara itu,, masih ada satu butir telur besar yang belum menetas.

“Anak ini pasti anak yang pendiam,,” ujar Ibu Itik memandangi telur itu. Nenek Itik datang menengok mereka.

“Ah,, telur ini pasti telur yang lama pecah. Aku pun dulu punya. Pecahkan saja!” kata Nenek Itik.



Ibu Itik terus mengerami telur yang tak bergerak itu. Tak lama kemudian terdengar suara “krtk krtk” dari kulit telur yang retak.

“Krak!” kulit telur pecah,, dan dari dalamnya meloncatlah seekor anak itik yang jelek.

“Aduh jeleknya anak ini! Anak dari telur yang keras. Coba masukkan ke dalam air,, pasti dia tak bisa berenang,,” kata Nenek Itik dengan marah.

Kemudian Ibu Itik berkata:”Nah semuanya,, ayo belajar berenang! Ikuti Ibu.”

Sambil berkata demikian Ibu Itik meloncat ke dalam air.

Kemudian satu-persatu anak-anak itik itu melompat. Dan yang terakhir adalah si anak itik yang buruk rupa. Si buruk rupa berada dekat-dekat dengan ibunya,, dan ia berenang dengan bagus sekali.



“Wah! Kau pintar sekali berenang. Tak salah lagi,, kau pasti anakku,,” kata Ibu Itik dengan gembira.

Nenek Itik yang mendengarnya sangat kesal,, lalu pulang dengan marah.

Mereka semua keluar dari air,, kemudian datanglah itik-itik tetangga,, “Hai itik jelek! Kwek,, kwek!” kata mereka mulai mencubit si anak itik jelek.

“Jangan ganggu anakku yang manis ini!” teriak Ibu Itik marah,, dan itik-itik itu pergi kabur dengan diam-diam.

“Walaupun dia benar-benar anak yang jelek tapi kalau diejek seperti itu… kasihan anak ini….,” kata Ibu Itik.

Ibu Itik membawa anak-anaknya pergi ke rumah Kakek Itik.

“Ini adalah anak-anakku yang manis,, kata Ibu Itik memperkenalkan. Kakek Itik tertawa senang,, “Ya,, semuanya akan kuberi ikan.”

Tetapi pada saat itu,, Kakek Itik sadar akan adanya anak itik yang buruk rupa.

“Aku tak mau memberi ikan pada cucuku yang jelek seperti kamu!” katanya pada anak itik yang buruk rupa.



Anak itik yang buruk rupa hanya diam melihat saudara-saudaranya makan ikan dengan nikmat.

“Kenapa aku dibenci seperti ini..??” katanya dengan amat sedih.

“Anak jelek seperti kamu harus cepat pergi. Ayo pergi!” kata saudara-saudaranya mendorong-dorong anak itik yang buruk itu,, sambil berlari mengelilinginya.

“Stop! Sakit!” jerit si Anak Itik.

Pada saat si buruk rupa lari berputar-putar,, ia bertemu dengan dua ekor ayam.

“kok,, kok,, kok. Anak jelek! Sana pergi!” usir ayam-ayam itu,, sambil mendorong-dorong anak itu dengan paruhnya.

“Aku tak melakukan apa-apa yang jelek,, mengapa kalian mengusirku..??” katanya sedih. Dari matanya meneteslah air mata.



Ibu Itik yang melihat hal iut,, merasa amat sedih. Bagi Ibu Itik,, si anak yang buruk itu adalah anaknya yang manis. Akhirnya anak itik yang buruk rupa,, tak tahan melihat kesedihan Ibunya,, dan memutuskan untuk pergi mengembara.

“Kalau ada aku,, Ibu pasti akan susah. Selamat tinggal Bu…,” katanya sedih.

Dalam perjalanan mengembara,, anak itik yang buruk rupa bertemu dengan katak di kolam pinggir desa.

“Anak Itik jelek. Cepat lari,, nanti kita dimakannya. Krook! Krook!” jerit mereka ketakutan.

“Kalau kalian semua membenciku,, aku pasti akan hidup seorang diri..??” katanya sedih. Ia terus saja melangkah tak tentu arah.



Matahari senja mulai menyinari alam sekitar dengan indahnya. Anak itik buruk rupa itu akhirnya kecapaian,, dan ia tertidur lelap di semak-semak.

Keesokan harinya ia terus berjalan selama berhari-hari,, dan sampailah ia di sebuah kolam.

Ketika si jelek akan masuk ke kolam untuk mandi,, datanglah serombongan bebek-bebek liar.

“Kau anak mana..?? wah,, jeleknya kamu. Ayo cepat keluar dari kolam ini!” kata mereka megnusir si buruk rupa dengan paruhnya. Ketika ia sedang lari kabur,, tiba-tiba kwek,, kwek… terdengar suara ribut dari bebek-bebek yang ketakutan. Ternyata seekor anjing pemburu yang besar sedang mengejar mereka sambil mengonggong,, “Guk,, guk”



Si Anak Itik sangat gemetar ketakutan. Tiba-tiba anjing pemburu itu mendekatinya sambil mengendus-endus,, tapi bebek-bebek yang ketakutan cepat-cepat lari menjauh.

“Kita tertolong oleh si jelek itu…,” kata mereka menyesal. Anak itik pun mulai berjalan lagi meneruskan perjalanannya. Akhirnya,, musim gugur telah berlalu,, dan musim dingin yang amat dingin pun tiba. Dan sejauh mata memandang,, yang terlihat hanya daun-daun kering yang berguguran.

“Perutku lapar,, aku pasti jatuh…,” rintihnya sambil berusaha terus berjalan. Akhirnya sampailah ia pada sebuah rumah.

“Tok,, tok…,” begitu si anak itik itu mengetuk,, keluarlah seorang Nenek.



“Masuklah,, kamu pasti kedinginan,,” kata Nenek.

Kemudian Nenek memberikan sup hangat kepada anak itik.

“Di sini hangat,, sebaiknya kau tinggal di sini saja,,” pinta Nenek.

Nenek itu adalah seorang yang amat baik hati.

Anak itik yang buruk rupa itu pun akhirnya melewatkan musim dingin di situ.

Tetapi,, si anak itik segera diusir dari rumah itu,, karena kucing dan ayam yang jahat merasa iri padanya.

“Anak jelek. Kau keluar dari telur ya..?? Kau bisa menangkap tikus tidak..??” tanya Kucing dan Ayam. Anak Itik itu menggeleng,, “Aku tak bisa melakukan hal-hal seperti itu,,” katanya.

“Kalau begitu,, kau tak bisa tinggal di sini. Ayo pergi!” usir mereka.



Anak itik yang jelek itu akhirnya pergi dari rumah nenek. Ia sendirian berjalan di malam yang gelap. Salju pun mulai turun.

Ia terus berjalan sendirian,, menuju danau.

Di sana,, ada sekelompok angsa cantik yang sedang berenang.

“Cantiknya burung-burung itu. Aku pun ingin dilahirkan dari burung yang seperti itu,…” katanya dalam hati.

Anak itik yang buruk rupa memandang dengan terpesona pada angsa-angsa itu,, lalu ia masuk ke dalam air.

Tak lama kemudian ia tertidur di danau,, karena letihnya setelah seharian berjalan.



Keesokan harinya,, seorang penebang kayu lewat di tepi danau. “Eh..?? Ada anak itik yang pingsan di tempat seperti itu. Padahal danau mulai membeku,, dia harus diselamatkan.”

Penebang kayu membawa serta anak itik pulang ke rumahnya. Ketika dihangatkan di depan perapian,, si anak itik membuka matanya.

“Waa,, anak itik ini hidup!” teriak anak si penebang kayu dengan gembira. Akhirnya si anak itik tinggal bersama dengan keluarga penebang kayu yang baik hati.

Pada suatu hari ketika semua orang sedang pergi,, si anak itik diminta untuk menjaga rumah. Tiba-tiba datanglah serombongan tikus-tikus yang kelaparan.



“Cit…cit…,” mereka berlari-lari di atas meja.

“Hei! Tikus-tikus,, stop!” teriak Anak Itik mengusir mereka.

“Bruk,, bruk,,” ia pun naik ke atas meja berusaha mencegah tikus-tikus itu. Tapi mereka lari berputar-putar. “Ayo pergi! Jangan di sini! Ini makanan yang empunya rumah!” teriak si Anak Itik.

Semakin ia berusaha mengusir,, malahan meja jadi berantakan.

Tak lama kemudian istri penebang kayu kembali. Begitu melihat rumahnya yang berantakan,, ia menjadi marah besar.

“Mengapa jadi berantakan begini..?? ayo cepat pergi!” katanya mengusir si anak itik dengan sapu. Karena tidak tahu harus berbuat apa,, akhirnya si anak itik pun pergi dari rumah itu.

Ia terus berjalan terhuyung-huyung di tengah hujan salju. Tiba-tiba seekor tikus ladang muncul,, dan berkata: “Dingin di ditu. Masuklah ke sini.”



Lubang tempat tinggal tikus amat hangat,, dan ada banyak makanan. Ia melewatkan musim dingin di situ bersama dengan keluarga tikus ladang. Ketika musim semi tiba,, ia mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Ibu tikus ladang,, kemudian ia melanjutkan perjalanannya.

Ketika sedang berjalan,, tiba-tiba ia melihat sebuah danau yang besar,, dan airnya berkilauan ditimpa sinar matahari.

“Wah…! Indahnya,,” ucapnya penuh kagum.

Karena gembiranya si anak itik kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya.

Lalu.. apa yang terjadi..?? Sayapnya mengembang dan tubuhnya perlahan-lahan naik ke angkasa.

“Wah…! Aku bisa terbang!” serunya gembira.

Anak itik yang melihat bayangan tubuhnya di permukaan air,, merasa terkejut.



“Ah! Aku jadi angsa!” teriaknya keheranan. Ternyata anak itik yang jelek dan selalu diejek itu adalah seekor anak angsa.

Perlahan-lahan ia turun dan bergabung dengan angsa-angsa di danau. Tiba-tiba ada Putri Angsa yang datang mendekat padanya.

“Pangeranku yang telah lama kucari-cari!”

Anak itik yang diejek bodoh dan jelek itu,, bergabung bersama dengan teman-temannya. Petualangannya telah berakhir. Dan kini Ia telah menjadi Pangeran Angsa,, hatinya penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.



MORAL: Sifat iri dan dengki akan menimbulkan permusuhan. Sifat jujur dan saling tolong menolong akan membawa kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar