Sabtu, 03 Januari 2009

Balas Budi Burung Bangau

BALAS BUDI BURUNG BANGAU

Pada zaman dahulu di suatu tempat hiduplah seorang pemuda yang sangat miskin bernama Yosaku. Yosaku hidup seorang diri dengan menjual kayu bakar.

Pada suatu hari di musim salju, seperti biasanya setelah menjual kayu bakar di kota,, Yosaku bergegas pulang ke rumahnya. Salju turun, dan sekitarnya menjadi berwarna keperak-perakan.

“Brrr…. dinginnya… aku harus segera sampai di rumah dan menyiapkan makan malam.”

Bweet! Bweet!

Di tengah perjalanan pulang, terlihatlah suatu benda yang besar dan bergerak-gerak.



“Oh,, benda apa itu gerangan..??”

Ketika Yosaku mendekatinya,, ternyata seekor burung bangau yang meronta-ronta karena kakinya terjepit perangkap.

Mata si bangau yang menatap Yosaku berkaca-kaca seolah-olah meminta pertolongan darinya.

“Kasihan kau,, burung bangau. Baiklah,, aku akan segera menolongmu.”

Kemudian,, trekk,, Yosaku mematahkan perangkap yang menjepit kaki si Burung Bangau.

“Kakimu berdarah,, pasti sakit,, ya.”

Kemudian Yosaku mengoleskan obat yang diterimanya dari seorang penebang kayu pada luka si Burung Bangau.

“Setelah dua atau tiga hari,, lukamu akan segera sembuh. Mulai hari ini berhati-hatilah kamu terhadap perangkap!”

Si Burung Bangau tampak gembira,, Ia lalu melebarkan sayapnya dan,, bweet! bweet! Setelah mengibaskan sayapnya dua-tiga kali,, ia pun segera terbang ke angkasa. Burung Bangau itu berkali-kali terbang berkeliling di atas Yosaku, lalu kemudian menuju danau di atas gunung lalu menghilang.



Setibanya di rumah,, Yosaku menyalakan api di tungku perapian,, dan mulai menyiapkan makan malam.

Pada saat itu,,

“Tok! Tok! Selamat malam…”

Terdengarlah suara seorang gadis.

“Sebentar…! Siapa ya..??”

Ketika Yosaku membuka pintu rumahnya,, seorang gadis cantik tengah berdiri di depan pintu.

“Selamat malam. Saya tersesat di jalan akibat turunnya salju ini. Saya mau minta tolong,, izinkan saya menginap di sini barang satu malam.”

Dengan penuh rasa simpatik, Yosaku berkata”

“Kasihan sekali. Ayo,, cepat hangatkan tubuhmu dekat perapian.”

“Terima kasih atas pertolongan Tuan.”

Kemudian gasdis itu masuk ke dalam rumah,, dan duduk di depan perapian. Yosaku sangat terpesona oleh kecantikan si gadis yang tampak begitu bercahaya disinari api di perapian.



“Walaupun hanya ada makanan sekedarnya,, marilah kita maka nbersama-sama.”

“Jangan sungkan,, selamat makan.”

Yosaku pun menyantap makan malamnya bersama gadis itu.

“Terima kasih banyak…”

Ketika Yosaku hendak menuangkan the,, dengan tergesa-gesa gadis itu berkata:

“Mari,, thenya saya yang menuangkan.”

Begitu minum the yang dituangkan oleh gadis itu,, seluruh tubuh Yosaku merasa hangat dan perasaannya pun menjadi nyaman.

Tiba-tiba gadis itu berjalan ke belakang Yosaku, kemudian meletakkan tangannya dengan lembut di atas pundak yosaku,, dan mulai memijatnya.

“Saya hanya bisa melakukan hal ini sebagai tanda terima kasih saya.”

Tanpa disadari tahu-tahu Yosaku sudah tertidur dengan perasaan sangat bahagia.



“Kukuruyuuuk!” pagi pun tiba. Ketika terbangun dari tidurnya,, Yosaku sudah berada di bawah selimutnya.

“Selamat pagi. Makan paginya sudah siap.”

“Apakah gadis cantik yang tadi malam itu bukan sekedar mimpi..??”

Ketika Yosaku sadar bahwa itu bukan mimpi,, perasaannya pun menjadi sangat bahagia.

Sambil makan pagi bersama gadis itu,, Yosaku berkata dengan nada sedih:

“Hari sudah pagi,, tentu kamu juga harus pulang bukan..??”

Si gadis hanya diam membisu,, lalu menundukkan kepalanya,, dan meletakkan kedua belah tangannya di depan. Yosaku merasa kecewa karena menduga itu adalah salam perpisahan. Tetapi…

“Sebenarnya aku tidak punya tempat untuk pulang. Kalau tidak merepotkan,, aku ingin tinggal di sini selamanya,,” kata si gadis.



Yosaku mencubit pipinya untuk meyakinkan bahwa hal itu bukan hanya mimpi.

“Adududuh! Ternyata ini bukan mimpi.”

“Benarkah begitu..?? kamu bilang mau hidup di sini bersamaku selamanya..??”

“Ya! Jadikanlah aku istrimu. Namaku Putri Bangau.”

Yosaku pun menikah dengan gadis itu. Mereka hidup damai dan bahagia.

Setiap hari Yosaku bekerja lebih keras dari biasanya.

“Kamu jangan bekerja terlalu keras,,” kata Putri Bangau mengkhawatirkan kesehatan Yosaku.

Pada suatu hari Putri Bangau berkata:

“Aku ada permintaan kepadamu. Mulai hari ini aku akan menenun di kamar ini. Tetapi,, jangan sekali-kali kamu mengintipku selama aku menenun.”

Yosaku merasa heran mengapa ia tidak boleh mengintip Putri Bangau pada saat sedang menenun..?? Namun karena itu merupakan permintaan Putri Bangau yang baik hati,, Yosaku pun memenuhi janjinya.



Sejak malam itu,, Putri Bangau mulai menenun di kamar yang tertutp pintunya. Duk! Duk!

“Berusahalah bekerja. Aku juga tidak akan kalah untuk berusaha.”

Pagi harinya ketika Yosaku terjaga dari tidurnya,, Putri Bangau yang telah menenun tanpa tidur sekejap pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang terlihat lelah. Ia membawa potongan kain yang ditenunnya di tangannya.

“Kalau kamu menjual kain ini dengan harga yang mahal,, kamu tidak perlu lagi bekerja mati-matian.”

Yosaku membelalakkan matanya melihat kain hasil tenunan itu. Ia terkagum-kagum atas keindahan kain tersebut.

“Kain ini namanya ayanishiki,, merupakan kain tenun yang sangat langka. Juallah kain ini ke kota.”

Yosaku segera berangkat ke kota untuk menjual ayanishiki.



Begitu tiba di kota,, dengan suara yang lantang Yosaku mulai menjajakan kain tenunannya.

“Ya,, siapa yang berniat membeli ayanishiki..?? Ayanishiki adalah kain tenun yang paling indah di dunia.”

Kemudian lewatlah ke sana seorang saudagar besar.

“Ooh! Mungkinkah kain ini ayanishiki yang langka itu..??”

Saudagar itu turun dari kudanya dan membentangkan kain Yosaku.

“Hmm,, indah sekali. Memanga betul ini adalah ayanishiki,, kain tenun impian.”

Saudagar itu membeli ayanishiki dan menyerahkan uang banyak kepada Yosaku.

“Belum pernah aku melihat orang ini dan uang sebanyak ini! Hebat!”

Yosaku sangat gembira.

“Dengan uang sebanyak ini aku bisa menyambut tahun baru dengan baik bersama Putri Bangau.”

Kemudian ia membeli jeruk dan ikan,, lalu bergegas pulang.”



“Putri Bangau,, berkat kamu,, aku dapat menjual kain tenun itu dan mendapatkan uang sebanyak ini. Ini,, masaklah makanan apa saja untuk kita!”

Putri Bangau pun segera memasak,, lalu mereka berdua makan.

“Aku akan menenun lebih banyak lagi.”

Putri Bangau kembali mengurung dirinya di dalam kamar,, dan mulai menenun lagi.

Klotrak! Klotrak! Klotrak! Klotrak!

Beberapa hari kemudian ia keluar dari kamar itu.

“Yosaku,, kain tenunnya sudah selesai…”

“Wow! Betapa indahnya! Tapi,, Putri Bangau,, kamu kelihatan kurus dan tidak sehat. Kamu tidak apa-apa..??”

“Ya. Aku hanya sedikit lelah,,” jawab Putri Bangau.



Yosaku segera mengantarkan kain tenun itu kepada Saudagar.

“Ini ayanishiki yang benar-benar indah dan istimewa.”

Yosaku kembali menerima uang yang banyak dari Saudagar itu.

Tetapi,, putriku ada enam orang. Nanti buatkan aku kain tenun empat lagi,, ya.”

Si Saudagar memerintahkan kepada Yosaku.

Yosaku merasa khawatir terhadap Putri Bangau yang menjadi kurus badannya setiap kali habis menenun.

“Maaf,, Tuan,, yang empat lembar lagi saya tidak punya. Bagaimana kalau nanti saya serahkan satu lembar lagi..??”

Yosaku memohon kepada si Saudagar.

“Diam kau! Kamu mau menolak perintahku..?? Pokoknya,, kalau kamu tidak membawa kain itu dalam tempo empat hari mendatang,, lehermu akan kupenggal!”

Yosaku pulang ke rumahnya dan dengan perasaan ragu-ragu ia menceritakan apa yang dialaminya kepada Putri Bangau.



“Jangan khawatir. Aku akan menenun empat kain yang diminta selama empat hari.”

Putri Bangau kembali mengurung diri di dalam kamarnya,, dan mulai menenun.

Klotrak! Klotrak! Klotrak! Klotrak!

Tidak siang,, tidak malam,, tidak pagi,, ia terus menenun.

Selama itu,, ia tidak makan dan tidak minum.

Pada malam keempat,, Yosaku tidak tahan lagi karena merasa sangat khawatir,, ia pun mengintip ke dalam kamar.

Di sana terlihatlah seekor burung bangau yang begitu kurus sedang mencabuti bulunya sendiri,, dan menenun dengan menggunakan bulu itu.

“Kamu telah melihatnya,, ya..??”

Burung Bangau keluar dari kamarnya sambil meneteskan air matanya karena sedih. Tiba-tiba ia kembali merubah wujudnya menjadi manusia,, yaitu Putri Bangau. Kemudian ia bersimpuh di depan Yosaku yang terduduk lemas karena terkejut,, dan menceritakan hal yang sebenarnya.



“Aku adalah burung bangau yang pernah kamu tolong setahun yang lalu. Untuk membalas budi baikmu itu,, aku berubah wujud menjadi manusia.”

“Tetapi,, kalau wujud burung bangauku dilihat orang,, aku tidak bisa kembali ke wujud manusia. Semoga kamu selalu sehat. Selamat tinggal…”

Setelah menyampaikan salam,, Putri Bangau berlari keluar.

“Putri Bangau! Maafkan aku,, aku bersalah! Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Walaupun kamu seekor burung bangau,, kembalilah!”

Putri Bangau berubah wujud menjadi burung bangau kembali.



“Kaaaak!”

Sambil menangis dan perasaan berat hati,, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku,, lalu terbang ke angkasa menuju ke danau di atas pegunungan.

“Putri Bangaaau! Maafkan akuuu! Kembalilah ke siniii!”

Suara sedih Yosaku terdengar bergema di pegunungan. Namun,, Putri Bangau tidak akan kembali lagi ke tempat Yosaku untuk selama-lamanya.



MORAL: Karena melanggar janjinya,, Yosaku berpisah dengan Putri Bangau untuk selama-lamanya. Jadi apapun yang terjadi,, janji harus ditepati bukan..??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar